Menikah Itu Ibadah

Rasulullah SAW bersabda, ''Barang siapa yang berkeluargai seorang perempuan lantaran kedudukannya, maka Allah tidak akan menambahkan baginya kecuali kehinaan. Barang siapa yang berkeluargai seorang perempuan lantaran kekayaannya, maka Allah tidak akan menambahkan baginya kecuali kefakiran.''

Beliau melanjutkan, ''Barang siapa yang berkeluargai seorang perempuan lantaran kemuliaan nasabnya, maka Allah tidak akan menambahkan baginya kecuali kerendahan. Dan, barang siapa yang berkeluargai seorang perempuan dan ia tidak menginginkan kecuali supaya sanggup menundukkan pandangan dan menjaga kemaluannya atau menyambung tali silaturahim, maka Allah akan memberkahi mereka berdua.'' (HR Thabrani).


Dari hadis di atas, ada dua hal penting yang sanggup dijadikan petunjuk bagi umat Islam yang hendak membangun rumah tangga. Pertama, sebuah rumah tangga akan diberkahi Allah atau tidak, salah satunya disebabkan oleh bagaimana niat pertama dalam membangun rumah tangga tersebut. Niat yang tidak benar mengakibatkan rumah tangga yang dibangun akan jauh dari keberkahan Allah. Dan, bahkan sanggup mengakibatkan rumah tangga kandas di tengah jalan. Sebaliknya, rumah tangga yang dibangun dengan niat benar, di antaranya untuk lebih menjaga kesucian diri dan menyambung persaudaraan, maka keberkahan Allah akan diraihnya dan kelangsungan rumah tangga sanggup terus dijaga.

Kedua, berkeluarga ialah ibadah. Nikah tidak sekadar menyatukan dua insan atau dua keluarga. Pernikahan bukan pula ialah kontrak sosial. Tetapi, nikah ialah salah satu ibadah. melaluiataubersamaini nikah, sesuatu yang asalnya haram dilakukan menjadi boleh dilakukan dan dari asalnya dosa menjadi pahala.

Allah mengambarkan problem ijab kabul dalam salah satu ayat-Nya dengan dipertamai kata-kata ''Tanda-tanda kekuasan-Nya'' dan diakhiri dengan perintah kepada insan untuk berpikir semoga menjadi orang yang bertakwa. Allah berfirman, ''Dan di antara gejala kekuasaan-Nya ialah Dia membuat untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya engkau cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan akung. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat gejala bagi kaum yang berpikir.'' (QS 30: 21).

Rasulullah pun mengambarkan dalam sabdanya, ''Apabila seorang hamba (manusia) sudah berkeluarga, maka ia sudah menyempurnakan separuh agama, lantaran itu hendaklah ia bertakwa kepada Allah dalam separuh yang tersisa.'' Dan, dalam suatu riwayat Thabrani dijelaskan, ''Barang siapa yang nikah, maka gotong royong ia sudah menyempurnakan separuh iman, lantaran itu hendaklah ia bertakwa kepada Allah dalam separuh yang tersisa.''

Dalam bahasa Alquran, ijab kabul disebut sebagai mitsaqan ghalizha (perjanjian yang berpengaruh dan sangat berat). Karenanya, Allah dan rasul-Nya melarang ijab kabul dijadikan sebagai main-main. Rasulullah melarang ijab kabul yang bersifat kontrak atau sementara. Bahkan, perceraian pun ialah sesuatu yang boleh dilakukan tetapi dibenci oleh Allah. Wallahu a'lam.
Tag : Islami
0 Komentar untuk "Menikah Itu Ibadah"

Back To Top