Gadis Kecil Pecinta Kupu-Kupu

Gadis Kecil Pecinta Kupu-kupu

“Aku merindukan kupu-kupu,” Kata Mirah pada Atma. “Kalau engkau baik padanya, kalau ia menyukaimu, ia akan hinggap dengan lembut dan tersemat di dadamu”
“Mengapa kupu-kupu ?”
“Karena ia masa kecilku.”

Senja. Angin Menoreh menyusup ke lembah-lembah. Bocah-bocah Menoreh mulai menaikkan layang-layang mereka satu demi satu ke angkasa. Mereka beruntung, para Penunggu Angin yang menghuni bebatuan besar di puncak-puncak pepegununganan itu mengutus bawah umur angin untuk menemani mereka bermain-main dengan kemudaan dan cuaca.


Dan bawah umur angin pula yang merasuki orang-orang tiap kali sinden dan wiraswara pertunjukan dusun menyanyikan kidungan rakyat menyeru nama-nama mereka yang purba . Maka para penari pun lantas larut ke dalam tepukan kendang sampai pagi tiba. Hanya air kembang, sesajian, dan sang empu yang bisa mengikat mereka dalam arena keteraturan. Anak-anak angin mengisi bebatuan, pohon-pohon dan sendang-sendang. Anak-anak angin merapat di batu, di pohon, dan menjadi sahabat akrab setiap bocah-bocah dusun. Mereka bercanda dan bercengkrama tiap kali bocah-bocah itu mencebur diri dalam hijau air sendang atau berloncatan di sela-sela bebatuan dan pohonan, laksana kera-kera yang dengan nakal seringkali turun mengganggu tanaman masyarakat dusun-dusun Menoreh Utara.

Menoreh yaitu ibu setiap kanak yang terlahir, dan Para Penunggu Angin yang dengan pintar mengirim kidung kehidupan lewat nyanyi daun-daun menyerupai Bapa bagi bocah-bocah junior itu.

Dan dari bawah umur Menoreh, lahirlah seorang Mirah. Dan Mirah cinta pada kupu-kupu, alasannya yaitu kupu-kupu yang pertama mengenalinya sebagai seorang sahabat akrab yang hangat dan penuh asih. Dulu, ketika ia belum mengenali cinta pada siapa saja, sebuntut kupu-kupu besar dengan akup koyaknya terkulai tanpa daya jatuh ke pangkuannya, menjadi instruksi pembuka wacana hidup dan pumasukan makna-makna.

Tapi menyematkan sebuntut kupu-kupu gajah di dada tentu bukan hiasan yang bagus buat siapa saja.
“Ia terlalu besar untuk sebuah bros” tutur ibunya.
Kata-kata yang terdengar menyakitkan buat Mirah kecil, yang tak pernah mengijinkan apa dan siapa saja hinggap di dadanya, bahkan bagi Rofik, yang semenjak kanak-kanak selalu dibayangkan Mirah sebagai kekasihnya. Kalau toh sekarang ia mengijinkan kepala Atma merapat ke dada dan pangkuannya, itu karena sekarang ia sudah menemukan cinta yang lebih berpengaruh dari kupu-kupu, walau mungkin tak lebih agung dari itu.

“Aku tak membandingkan cintamu dengan sebuntut kupu-kupu. Tapi kupu-kupu tak pernah meminta, ia spesialuntuk menyerahkan dirinya, dan begitulah kamu akan mengenalinya sebagai hidup dan berharga.” Kata Mirah perlahan sambil mengusap rambut Atma di pangkuannya. Teduh rumpun bambu menyejukkan mereka, sekalipun masing-masing dari daun-daunnya menyimpan takjub mencemburu.
“Aku tak menuntut apa-apa darimu, saya spesialuntuk mencintaimu. Sekalipun cinta yaitu sebuah kata-kata gres bagiku. Sebab saya spesialuntuklah seorang anakdidik dalam hal ini. Sebagai misteri ia terlalu agung bagiku, sebagaimana secara fisik, ia terasa teramat memuakkan. Dan saya belum lagi berani bercinta. Ajari saya dengan cinta kupu-kupumu.”
Mirah dan Atma menatap sahabat dekat-teman akrab mereka memainkan layang-layang di langit-langit Dusun Klonthangan. Angin dari puncak Watu Adeg menyusup ke rumpun-rumpun bambu, mengggoyang topeng-topeng barongan di rumah Kang Amin.
“Barate teka !” Seru Muhfid menunjuk ke pucuk-pucuk pohon di puncak-puncak bukit yang bergoyangan ditiup angin. Bocah-bocah yang menanti di jalanan dusun pun berlarian menarikdanunik layang-layangnya. Layang-layang bergoyangan naik meniti angin. Sendaren mulai berdengungan.
“Kupu-kupuku lincah mirip layang-layang itu. Tapi ia tidak berdengung, ia menyanyikan lagu kehidupanku.”
“Cintaku akan mengidungkan lagu-lagu bagi jiwamu.”
Daun-daun bambu gemerisik membincangkan mereka. Lalu mendadak mereka kehilangan kata-kata.

---oOo---

Cinta di sebuah kuliah lapangan memang bukan cinta yang bisa dipercaya. Ketika batas budaya, batas tradisi menjadi penghalang, spesialuntuk para pemberani yang bisa melibas jalan tualangnya sendiri. Mirah dan Atma memang bukan orang-orang penakut, namun penghormatan pada leluhur dan bumi kelahiran membuat mereka tetapkan untuk tidak pernah bersatu. Tapi hari-hari ini yaitu hari-hari ketika keduanya mencoba menghidupi cinta dan setia, meski di hati masing-masing tahu, betapa itu tiruana tak mungkin terus terjadi. Toh cinta tak pernah menunggu masa depan. Sesungguhnya, ia bahkan tak pernah sama sekali mempersoalkannya. Untuk hal ini, mereka tak butuh tahu betapa pengalaman mengasihi dan dicintai tak pernah menjadi pengalaman yang sia-sia. Mereka sekarang spesialuntuk ingin melewatkannya. Ya. Kalau mereka tak boleh berharap apa-apa, toh mereka masih bisa mencipta bersama kenangan-kenangan singkat. Barangkali kelak, jikalau jiwa mereka letih dan merindukan seorang kekasih, mereka bisa sejenak membaringkan diri di dalamnya. Memanjakan diri pada sebuah masa lalu.
Maka mereka mencoba merekam sebanyak mungkin dari bencana : menciumi aroma rumput-rumput lembap yang gres saja disabit bagi ternak-ternak, menyusuri jalan-jalan tangga di sela-sela rumah bambu, menyapa setiap pepohonan, memainkan layang-layang, merajang tembakau, sampai bermain-main di kolam ikan, daerah separo masyarakat dusun memmembuang hajat ketika perut mereka memanggilnya.
“Marilah kita mencoba membayangkan untuk sebuah yang tiada akhir.” Kata Atma pada suatu hari.
Tapi Mirah akal-akalan tak mengerti. Ia tahu niscaya kapan ia harus akal-akalan tak mengerti, supaya hari-hari mereka tak perlu terusik rasa sakit yang tak berkhasiat itu.
“Mengapa engkau suka membangkitkan rasa sakit dalam dirimu, Atma ? Bukankah indah untuk tidak memikirkannya ?”
Mereka tahu itu. Ketika cinta tak boleh punya masa depan, biarkan ia menguasai sepenuhnya kekinian.
“Kamu tak mengerti. Kita sama sekali tak bisa menawar, maka ini tiruana akan menjadi sangat indah kalau kita bangun dan melawan.”
“Engkau masokhis.”
“Bukan. Aku idealis.”
“Engkau melakukannya bagi dirimu sendiri, dalam ruang batinmu sendiri. Sesuatu yang melulu beredar di kepala tak pernah menjadi usaha yang sesungguhnya.”
“Karenanya saya menarikdanuniknya ke ruang kita. Ke beranda, supaya masing-masing dari kita bisa menatap dan membincangkannya.”
“Engkau menarikdanunikku ke dalamnya. Engkau memaksaku.”
“Tidak, tidak Mirah. Aku ingin menyebarkan denganmu. Ya segala sesuatunya, juga ketakutan-ketakutan akan apa yang niscaya akan terjadi.”
“Engkau spesialuntuk ingin memaksaku masuk ke dalam permainanmu. Ke dalam kegemaranmu menyakiti dirimu sendiri. Engkau begitu egois, Atma. Egois.”
Atma terdiam.
“Aku tidak tahu, Mirah. Aku tidak tahu.”
Bunga-bunga semak di pinggir jalan, adakah engkau memiliki sebuah nyanyian ? Serukan ke dalam hati-hati kami supaya kami tak lagi sepi.

---oOo---

Tapi cuaca mengakibatkan leher-leher bunga itu kering dan serak, tak bisa bersuara. Maka jadilah sepi itu. Tak ada suara, apa lagi lagu-lagu. Lalu Mirah pun bertutur wacana kupu-kupu.
“Suatu hari kupu-kupu lucu itu hinggap dengan lincah di telapak tanganku. Ia menatap manja mesra pribadi ke mataku. ‘Aku punya sebuah kisah untukmu’ katanya dengan keriangan aneh yang tak pernah kujumpai sebelumnya. ‘Ayo ceritakanlah padaku’ kataku. Tapi ia terus tertawa-tawa. Ia tiba-tiba terbang dan terus menarikdanunikku. Ia melesat menyusup di sela-sela pohon tembakau, melintasi sawah-sawah, pematang-pematang, dan pohonan kelapa. Ia terbang berloncatan dari bunga ke bunga. Tinggal pada yang satu untuk mencecap madu-madu, hinggap pada yang lain dan menggoyangkan kelopak-kelopaknya dalam keceriaan yang suci.. Daun, pohon, kayu, tanah, air, ranting, awan, juga matahari terus bergerak dalam kidung masmur keawetan. Dan kupu-kupuku terus menari. Ketika ia mengepakkan akup-akup kuningnya, serbuk-serbuk sari yang menempel pada tubuhnya terburai dalam angin. Kini angin menarikdanunikan penciptaan itu, melahirkan citra-citra aneh dari butiran-butiran serbuk sari yang mempercayakan diri padanya. Angin membelai daun-daun, yang kemudian tersipu malu, dan menggoyang-goyangkan dirinya dengan gembira. Kegembiraan dan spontanitas memdiberi keberanian pada kanak-kanak embun yang tiruanla mesra merangkul ibu daun-daun untuk menjalani sendiri tualangnya. Maka berluncuranlah mereka di helaian daun, -sedikit takut-takut ketika datang di ujungnya- untuk kemudian meloncat dengan bebas merdeka ke jutaan sahabat akrab mereka di kolam dan sendang-sendang Klonthangan. Sorak sorai menyambut kebebasan gres yang sekarang mereka miliki. Gelombang-gelombang keceriaan yang suci terus berpendaran di muka sendang. Kegembiraan pun perlahan mengendap sebagai syukur, segala sesuatunya begitu jernih, segar, dan indah dalam kearifan hidup yang dalam. Ketika cinta itu utuh terlukiskan, tak ada lagi kata. Tak ada lagi bahasa.”
“Tapi tiba-tiba saja kupu-kupuku jatuh terduduk dengan letih. Air mata mengalir dari pipinya. ‘Maafkan aku, maafkan aku, sahabat dekat. Aku tak bisa berkisah padamu. Kisahku spesialuntuklah sebuah perjalanan. Aku tak bisa menyebarkan dengan padamu. Aku sendiri bahkan tak menemukan puisi itu lagi ketika saya mencoba meloncati bunga-bunga yang sama, daun-daun yang sama ketika saya pertama mengalaminya. Maaf kalau engkau tidak mengerti’ kata kupu-kupuku.”
“ ‘Aku mengerti’. Kataku. ‘Aku mengerti sepenuhnya, saya mendengar tiruana kisahmu dari kegembiraan di wajahmu. Kegembiraanmu awet. Engkau kupu-kupu sufi’.”
Dan Atma makin mengasihi Mirah.

---oOo---

Dan semakin cinta itu merasuk ke dalam, semakin ia terasa menyakitkan. Hingga mereka tetapkan untuk saling tak bertegur sapa.
Tapi ketika hari itu tiba, sebuntut kupu-kupu tiba-tiba hinggap di jendela kamar Atma.
“Apakah saya mengenalmu kupu-kupu ? Jika engkau benar cinta Mirahku, engkau tak bisa berkata-kata. Kata-katamu tak pernah sepenuhnya ada. Aku tahu ini tiruana. Engkau spesialuntuk bisa berkata-kata lewat batinnya. Engkau kata-kata dari kearifannya. Hatiku tak cukup mengerti bahasamu, mengartikan satu demi satu pesan cinta dalam perbincangan bersama sebuntut kupu-kupu, bagiku terasa begitu konyol dan lucu.”
Atma terkejut dengan kata-kata yang meluncur dari hatinya. Apakah ia merasa cemburu ? Ego seorang lelaki yang takluk oleh kupu-kupu ?
“Aku bukan kupu-kupu Mirah. Aku kupu-kupu dari batinmu. Sebab itulah saya bisa berbicara kepadamu, karena saya bercengkrama dari bahasamu, dari tiap-tiap kata yang terucap lewat pengecap batinmu.”

---oOo---

Tak mirip biasanya, pagi itu Para Penunggu Angin mengirimkan kera-kera putih. Mereka lincah berloncatan dari dahan ke dahan. Keluar dari pertapaan-pertapaan aneh di puncak-puncak bebatuan Menoreh.
Kera putih sudah menyebar ke seluruh wilayah dusun Klonthangan, monyet putih berburu musuh awetnya. Tapi Atma bukanlah Rahwana yang menculik Sinta. Ia yaitu seorang yang kepadanya Mirah mempercayakan seluruh hidupnya. Bahwa kemudian kehidupan itu sendiri yang menolak meronta dan tetapkan sendiri jalan hidupnya, itu perkara lain.
“Kera itu akan mengpertama engkau dan kupu-kupumu, Atma. Biarlah ia menjadi bunyi jiwamu. Dan kupu-kupu, yaitu sahabat akrab tualangmu.”
“Maafkan aku, Mirah. Aku tak bisa memdiberi akup pada cintamu. Bahkan saya tak bisa menciptakannya bagi diriku sendiri. Aku bukan Rahwana yang bisa menculik dirimu bagi hatiku. Sebab hatiku sendiri tak lagi kumiliki, kutukarkan ia dengan kupu-kupu bagi jiwaku.”

Maillist From.

Ineke.
0 Komentar untuk "Gadis Kecil Pecinta Kupu-Kupu"

Back To Top