15 Petunjuk Menguatkan Keyakinan | Petunjuk Menguatkan Iman

15 Petunjuk Menguatkan Iman | Petunjuk Menguatkan Iman

Tak seorangpun sanggup menjamin dirinya akan tetap terus berada dalam keimanan sehingga meninggal dalam keadaan khusnul khatimah. Untuk itu kita perlu merawat bahkan senantiasa berusaha menguatkan keimanan kita. Tulisan ini insya'allah memmenolong kita dalam usaha mulia itu.

Tsabat (kekuatan keteguhan iman) ialah tuntutan asasi setiap muslim. Karena itu tema ini penting dibahas. Ada beberapa alasan mengapa tema ini begitu sangat perlu menerima perhatian fokus.

Pertama, pada zaman ini kaum muslimin hidup di tengah banyak sekali macam fitnah, syahwat dan syubhat dan hal-hal itu sangat berpotensi menggerogoti iman. Maka kekuatan doktrin ialah kebutuhan muthlak, bahkan lebih dibutuhkan dibanding pada masa generasi sobat dekat, lantaran kerusakan insan di segala bidang sudah menjadi fenomena umum.


Kedua, banyak terjadi pemurtadan dan konversi (perpindahan) agama. Jika pada pertama kemerdekaan jumlah umat Islam di Indonesia mencapai 90 % maka dikala ini jumlah itu sudah berkurang hampir 5%. Ini tentu menyebabkan kekhawatiran mendalam. Untuk mengatasinya dibutuhkan jalan keluar, sehingga setiap muslim tetap mempunyai kekuatan iman.

Ketiga, pembahasan duduk masalah tsabat berkait erat dengan duduk masalah hati. Padahal Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: "Dinamakan hati lantaran ia (selalu) berbolak-balik. Perumpamaan hati itu bagaikan bulu yang ada di pucuk pohon yang diombang-ambingkan oleh angin." (HR. Ahmad, Shahihul Jami' no. 2361)

Maka, mengukuhkan hati yang senantiasa berbolak-balik itu dibutuhkan usaha keras, biar hati tetap teguh dalam keimanan.

Dan sungguh Allah Maha Rahman dan Rahim kepada hambaNya. Melalui Al Qur'an dan Sunnah RasulNya Ia mempersembahkan petunjuk bagaimana cara mencapai tsabat. Berikut ini klarifikasi 15 petunjuk menurut Al Qur'an dan Sunnah untuk memelihara kekuatan dan keteguhan doktrin kita.

Akrab dengan Al Qur'an

Al Qur'an ialah petunjuk utama mencapai tsabat. Al Qur'an ialah tali penghubung yang amat kokoh antara hamba dengan Rabbnya. Siapa dekat dan berpegang teguh dengan Al Qur'an pasti Allah memeliharanya; siapa mengikuti Al Qur'an, pasti Allah menyelamatkannya; dan siapa yang mendakwahkan Al Qur'an, pasti Allah menunjukinya ke jalan yang lurus. Dalam hal ini Allah berfirman:


"Orang-orang kafir berkata, mengapa Al Qur'an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja? Demikianlah supaya Kami teguhkan hatimu dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (teratur dan benar)." (Al Furqan: 32-33)
Beberapa alasan mengapa Al Qur'an dijadikan sebagai sumber utama mencapai tsabat adalah: Pertama, Al Qur'an menanamkan keimanan dan mensucikan jiwa seseorang, lantaran melalui Al Qur'an, kekerabatan kepada Allah menjadi sangat dekat. Kedua, ayat-ayat Al Qur'an diturunkan sebagai penentram hati, menjadi penyejuk dan penyelamat hati orang diberiman sekaligus benteng dari hempasan banyak sekali angin kencang fitnah. Ketiga, Al Qur'an menyampaikan konsepsi serta nilai-nilai yang dijamin kebenarannya. Karena itu, seorang mukmin akan menjadikan Al Qur'an sebagai ukuran kebenaran. Keempat, Al Qur'an menjawaban banyak sekali tuduhan orang-orang kafir, munafik dan musuh Islam lainnya. Seperti ketika orang-orang musyrik berkata, Muhammad ditinggalkan Rabbnya, maka turunlah ayat: "Rabbmu tidaklah meninggalkan engkau dan tidak (pula) benci kepadamu." (Adl Dluha: 3) (Syarh Nawawi, 12/156). Orang yang dekat dengan Al Qur'an akan menyandarkan tiruana perihalnya kepada Al Qur'an dan tidak kepada perkataan manusia. Maka, betapa agung sekiranya penuntut ilmu dalam segala disiplinnya menjadikan Al Qur'an diberikut tafsirnya sebagai obyek utama kegiatannya menuntut ilmu.

Iltizam (komitmen) terhadap syari'at Allah

"Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang diberiman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akherat. Dan Allah menyesatkan orang-orang yang zhalim. Dan Allah berbuat apa saja yang Ia kehendaki." (Ibrahim: 27)

"Dan bergotong-royong kalau mereka melaksanakan pelajaran yang didiberikan kepada mereka, tentulah hal demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih meneguhkan (hati mereka di atas kebenaran)." (An Nisa': 66)
Karena itu, membuktikan surat Ibrahim di atas Qatadah berkata: "Adapun dalam kehidupan di dunia, Allah meneguhkan orang-orang diberiman dengan kebaikan dan amal shalih sedang yang dimaksud dengan kehidupan akherat ialah alam kubur." (Ibnu Katsir: IV/421)

Maka terperinci sekali, sangat tidak mungkin orang-orang yang malas berbuat kebaikan dan amal shaleh diharapkan mempunyai keteguhan iman. Karena itu, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam senantiasa melaksanakan amal shaleh secara kontinyu, sekalipun amalan itu sedikit, demikian pula halnya dengan para sobat dekat. Komitmen untuk senantiasa menjalankan syariat Islam akan membentuk kepribadian yang tangguh, dan doktrin pun menjadi teguh.

Mempelajari Kisah Para Nabi

Mempelajari kisah dan sejarah itu penting. Apatah lagi sejarah para Nabi. Ia bahkan sanggup menguatkan doktrin seseorang. Secara khusus Allah menyinggung duduk masalah ini dalam firman-Nya:
"Dan Kami ceritakan kepadamu kisah-kisah para rasul biar dengannya Kami teguhkan hatimu dan dalam surat ini sudah hadir kepadamu kebenaran, pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang diberiman." (Hud: 120)
Sebagai contoh, marilah kita renungkan kisah Ibrahim Alaihis Salam yang didiberitakan dalam Al Qur'an:

"Mereka berkata, bakarlah dia dan menolonglah tuhan-tuhan engkau, bila engkau benar-benar hendak bertindak. Kami berfirman, hai api menjadi dinginlah dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim. Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim maka Kami jadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi." (Al Anbiya': 68-70)
Bukankah hati kita akan bergetar dikala merenungi kronologi pembakaran nabi Ibrahim sehingga ia selamat atas izin Allah? Dan bukankah dengan demikian akan membuahkan keteguhan doktrin kita? Lalu, kisah nabi Musa Alaihis Salam yang tegar menghadapi kezhaliman Fir'aun demi menegakkan agama Allah. Bukankah kisah itu mengingatkan kekerdilan jiwa kita dibanding dengan nabi Musa?

Tak sedikit umat Islam sudah merasa tak punya jalan lantaran kondisi ekonomi yang kurang menguntungkan misalnya, sehingga mau saja dikala diajak kongkalikong dan banyak sekali praktek syubhat lain oleh koleganya. Lalu mereka mencari-cari alasan mengabsahkan tindakannya yang keliru. Dan bukankah lantaran takut gertakan penguasa yang tiranik kemudian banyak di antara umat Islam (termasuk ulamanya) yang menjadi tuli, buta dan bisu sehingga tidak melaksanakan amar ma'ruf nahi mungkar? Bahkan sebaliknya malah bergabung dan bersekongkol serta melegitimasi status quo (menganggap yang ada sudah baik dan tak perlu diubah).

Bukankah dengan mempelajari kisah-kisah Nabi yang penuh dengan usaha menegakkan dan meneguhkan doktrin itu kita menjadi malu kepada diri sendiri dan kepada Allah? Kita mengharap Surga tetapi banyak hal dari sikap kita yang menjauhinya. cepatdangampang-gampangan Allah menunjuki kita ke jalan yang diridhaiNya.

Berdo'a

Di antara sifat hamba-hamba Allah yang diberiman ialah mereka memohon kepada Allah biar didiberi keteguhan iman, menyerupai do'a yang tertulis dalam firmanNya:

"Ya Rabb, tidakbolehlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sehabis Engkau diberi petunjuk kepada kami." (Ali Imran: 8)

"Ya Rabb kami, diberilah kesabaran atas diri kami dan teguhkanlah pendirian kami serta tolonglah kami dari orang-orang kafir." (Al Baqarah: 250)
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

"Sesungguhnya seluruh hati Bani Adam terdapat di antara dua jari dari jemari Ar Rahman (Allah), bagaikan satu hati yang sanggup Dia palingkan ke mana saja Dia kehendaki." (HR. Muslim dan Ahmad)
Agar hati tetap teguh maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam banyak memanjatkan do'a diberikut ini terutama pada waktu duduk takhiyat simpulan dalam shalat.

"Wahai (Allah) yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku pada din-Mu." (HR. Turmudzi)
Banyak lagi do'a-do'a lain tuntunan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam biar kita menerima keteguhan iman. cepatdangampang-gampangan kita senantiasa tergerak hati untuk berdo'a utamanya biar doktrin kita diteguhkan dikala menghadapi banyak sekali ujian kehidupan.

Dzikir kepada Allah

Dzikir kepada Allah ialah amalan yang paling ampuh untuk mencapai tsabat. Karena pentingnya amalan dzikir maka Allah memadukan antara dzikir dan jihad, sebagaimana tersebut dalam firmanNya:

"Hai orang-orang yang diberiman, bila engkau memerangi pasukan (musuh) maka berteguh-hatilah engkau dan dzikirlah kepada Allah sebanyak-banyaknya." (Al Anfal: 45)
Dalam ayat tersebut, Allah menjadikan dzikrullah sebagai amalan yang amat baik untuk mencapai tsabat dalam jihad. Ingatlah Yusuf Alaihis Salam! melaluiataubersamaini apa ia memohon menolongan untuk mencapai tsabat ketika menghadapi fitnah rayuan seorang perempuan anggun dan berkedudukan tinggi? Bukankah dia berlindung dengan kalimat ma'adzallah (aku berlindung kepada Allah), lantas gejolak syahwatnya reda?

Demikianlah imbas dzikrullah dalam mempersembahkan keteguhan doktrin kepada orang-orang yang diberiman.

Menempuh Jalan Lurus

"Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini ialah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia dan tidakboleh mengikuti jalan-jalan (lain) sehingga menceraiberaikan engkau dari jalanNya." (Al An'am: 153)
Dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mensinyalir bahwa umatnya bakal terpecah-belah menjadi 73 golongan, tiruananya masuk Neraka kecuali spesialuntuk satu golongan yang selamat (HR. Ahmad, hasan)

Dari sini kita mengetahui, tidak setiap orang yang mengaku muslim mesti berada di jalan yang benar. Rentang waktu 14 era dari hadirnya Islam cukup banyak membuat terkotak-kotaknya pemahaman keagamaan. Lalu, jalan manakah yang selamat dan benar itu? Dan, pemahaman siapakah yang mesti kita ikuti dalam praktek keberaga-maan kita? Berdasarkan banyak keterangan ayat dan hadits, jalan yang benar dan selamat itu ialah jalan Allah dan RasulNya. Sedangkan pemahaman agama yang autentik kebenarannya ialah pemahaman menurut keterangan Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada para sobat dekatnya. (HR. Turmudzi, hasan).

Itulah yang mesti kita ikuti, tidak penafsiran-penafsiran agama menurut nalar insan yang tingkat kedalaman dan kecerdasannya beragam dan terbatas. Tradisi pemahaman itu selanjutnya dirawat oleh para tabi'in dan para imam shalihin. Paham keagamaan inilah yang dalam terminologi (istilah) Islam selanjutnya dikenal dengan paham Ahlus Sunnah wal Jamaah. Atau sebagian menyebutnya dengan pemahaman para salafus shalih.

Orang yang sudah mengikuti paham Ahlus Sunnah wal Jamaah akan tegar dalam menghadapi banyak sekali keguakaragaman paham, lantaran mereka sudah yakin akan kebenaran yang diikutinya. Berbeda dengan orang yang berada di luar Ahlus Sunnah wal Jamaah, mereka akan senantiasa galau dan ragu. Berpindah dari suatu lingkungan sesat ke lingkungan bid'ah, dari filsafat ke ilmu kalam, dari mu'tazilah ke jago tahrif, dari jago ta'wil ke murji'ah, dari thariqat yang satu ke thariqat yang lain dan seterusnya. Di sinilah pentingnya kita berpegang teguh dengan manhaj (jalan) yang benar sehingga doktrin kita akan tetap besar lengan berkuasa dalam situasi apapun.

Menjalani Tarbiyah

Tarbiyah (pendidikan) yang semestinya dilalui oleh setiap muslim cukup banyak. Paling tidak ada empat macam :

Tarbiyah Imaniyah, yaitu pendidikan untuk menghidupkan hati biar mempunyai rasa khauf (takut), raja' (pengharapan) dan mahabbah (kecintaan) kepada Allah serta untuk menghilangkan kekeenteng hati yang disebabkan oleh jauhnya dari Al Qur'an dan Sunnah.

Tarbiyah Ilmiyah, yaitu pendidikan keilmuan menurut dalil yang benar dan menghindari taqlid buta yang tercela.

Tarbiyah Wa'iyah, yaitu pendidikan untuk mempelajari siasat orang-orang jahat, langkah dan taktik musuh Islam serta fakta dari banyak sekali insiden yang terjadi menurut ilmu dan pemahaman yang benar.

Tarbiyah Mutadarrijah, yaitu pendidikan bertahap, yang membimbing seorang muslim setingkat demi setingkat menuju kesempurnaannya, dengan kegiatan dan perencanaan yang matang. Bukan tarbiyah yang dilakukan dengan terburu-buru dan asal jalan.

Itulah beberapa tarbiyah yang didiberikan Rasul kepada para sobat dekatnya. Berbagai tarbiyah itu menjadikan para sobat dekat mempunyai doktrin baja, bahkan membentuk mereka menjadi generasi terbaik sepanjang masa.

Meyakini Jalan yang Ditempuh

Tak dipungkiri bahwa seorang muslim yang bertambah keyakinannya terhadap jalan yang ditempuh yaitu Ahlus Sunnah wal Jamaah maka bertambah pula tsabat (keteguhan iman) nya. Adapun di antara usaha yang sanggup kita lakukan untuk mencapai keyakinan kokoh terhadap jalan hidup yang kita tempuh adalah:

Pertama, kita harus yakin bahwa jalan lurus yang kita tempuh itu ialah jalan para nabi, shiddiqien, ulama, syuhada dan orang-orang shalih.

Kedua, kita harus merasa sebagai orang-orang terpilih lantaran kebenaran yang kita pegang, sebagaimana firman Allah: "Segala puji bagi Allah dan kesejahteraan atas hamba-hambaNya yang Ia pilih." (QS. 27: 59)

Bagaimana perasaan kita seandainya Allah membuat kita sebagai benda mati, binatang, orang kafir, penyeru bid'ah, orang fasik, orang Islam yang tidak mau berdakwah atau da'i yang sesat? cepatdangampang-gampangan kita berada dalam keyakinan yang benar yakni sebagai Ahlus Sunnah wal Jamaah yang sesungguhnya.

Berdakwah

Jika tidak digerakkan, jiwa seseorang tentu akan rusak. Untuk menggerakkan jiwa maka perlu dicarikan medan yang tepat. Di antara medan pergerakan yang paling agung ialah berdakwah. Dan berdakwah ialah kiprah para rasul untuk membebaskan insan dari adzab Allah.

Maka tidak benar bila dikatakan, fulan itu tidak ada perubahan. Jiwa manusia, bila tidak disibukkan oleh ketaatan maka sanggup dipastikan akan disibukkan oleh kemaksiatan. Sebab, doktrin itu sanggup bertambah dan berkurang.

Jika seorang da'i menghadapi banyak sekali tantangan dari ahlul bathil dalam perjalanan dakwahnya, tetapi ia tetap terus berdakwah maka Allah akan semakin menambah dan mengokohkan keimanannya.

Dekat dengan Ulama

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: "Di antara insan ada orang-orang yang menjadi kunci kebaikan dan epilog kejahatan." (HR. Ibnu Majah, no. 237, hasan)

Senantiasa bergaul dengan ulama akan semakin menguatkan doktrin seseorang. Tercatat dalam sejarah bahwa banyak sekali fitnah sudah terjadi dan menimpa kaum muslimin, kemudian Allah meneguhkan doktrin kaum muslimin melalui ulama. Di antaranya menyerupai diutarakan Ali bin Al Madini Rahimahullah: "Di hari riddah (pemurtadan) Allah sudah memuliakan din ini dengan Abu Bakar dan di hari mihnah (ujian) dengan Imam Ahmad."

Bila mengalami kegundahan dan problem yang dahsyat Ibnul Qayyim menhadiri Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah untuk mendengarkan banyak sekali nasehatnya. Sertamerta kegundahannya pun hilang berganti dengan kelapangan dan keteguhan doktrin ( Al Wabilush Shaib, hal. 97).

Meyakini Pertolongan Allah

Mungkin pernah terjadi, seseorang tertimpa petaka dan meminta dukungan Allah, tetapi dukungan yang ditunggu-tunggu itu tidak kunjung hadir, bahkan yang dialaminya spesialuntuk peristiwa dan ujian. Dalam keadaan menyerupai ini insan banyak membutuhkan tsabat biar tidak berputus asa. Allah berfirman:

Dan berapa banyak nabi yang berperang yang diikuti oleh sejumlah besar pengikutnya yang bertaqwa, mereka tidak menjadi lemah lantaran peristiwa yang menimpa mereka di jalan Allah, tidak lesu dan tidak pula mengalah (kepada musuh). Dan Allah menyukai orang-orang yang sabar. Tidak ada do'a mereka selain ucapan, Ya Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebihan dalam urusan kami. Tetapkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir. Karena itu Allah mempersembahkan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akherat. " (Ali Imran: 146-148)
Mengetahui Hakekat Kebatilan

Allah berfirman:

"Janganlah sekali-kali engkau terpedaya oleh kebebasan orang-orang kafir yang bergerak dalam negeri ." (Ali Imran: 196)

"Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al Qur'an (supaya terperinci jalan orang-orang shaleh) dan supaya terperinci (pula) jalan orang-orang yang berbuat jahat (musuh-musuh Islam)." (Al An'am: 55)

"Dan Katakanlah, yang benar sudah hadir dan yang batil sudah sirna, bergotong-royong yang batil itu pastilah lenyap." (Al Isra': 81)
Berbagai keterangan ayat di atas sungguh menentramkan hati setiap orang diberiman. Mengetahui bahwa kebatilan akan sirna dan kebenaran akan menang akan mengukuhkan seseorang untuk tetap teguh berada dalam keimanannya.

Memiliki Akhlak Pendukung Tsabat

Akhlak pendukung tsabat yang utama ialah sabar. sepertiyang sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam: "Tidak ada suatu pemdiberian yang didiberikan kepada seseorang yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran." (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Tanpa kesabaran doktrin yang kita miliki akan simpel terombang-ambingkan oleh banyak sekali petaka dan ujian. Karena itu, sabar termasuk senjata utama mencapai tsabat.

Nasehat Orang Shalih

Nasehat para shalihin sungguh amat penting artinya bagi keteguhan iman. Karena itu, dalam segala tindakan yang akan kita lakukan hendaklah kita sering-sering meminta nasehat mereka. Kita perlu meminta nasehat orang-orang shalih dikala mengalami banyak sekali ujian, dikala didiberi jabatan, dikala menerima rezki yang banyak dan lain-lain.

Bahkan seorang sekaliber Imam Ahmad pun, dia masih perlu menerima nasehat dikala menghadapi ujian berat oleh intimidasi penguasa yang tiranik. Bagaimana pula halnya dengan kita?

Merenungi Nikmatnya Surga

Surga ialah daerah yang penuh dengan kenikmatan, kegembiraan dan suka-cita. Ke sanalah tujuan pengembaraan kaum muslimin. Orang yang meyakini adanya pahala dan Surga pasti akan simpel menghadapi banyak sekali kesusahan. cepatdangampang pula baginya untuk tetap tsabat dalam keteguhan dan kekuatan imannya.

Dalam meneguhkan doktrin para sobat dekat, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sering mengingatkan mereka dengan kenikmatan Surga. Ketika melewati Yasir, istri dan anaknya Ammar yang sedang disiksa oleh kaum musyrikin dia mengatakan: "Bersabarlah wahai keluarga Yasir, daerah kalian nanti ialah Surga". (HR. Al Hakim/III/383, hasan shahih)

cepatdangampang-gampangan kita sanggup merawat dan terus-menerus meneguhkan keimanan kita sehingga Allah menjadikan kita khusnul khatimah. Amin.
0 Komentar untuk "15 Petunjuk Menguatkan Keyakinan | Petunjuk Menguatkan Iman"

Back To Top